Bukan Sekadar Bersih-Bersih, K3 ASRI Didorong Jadi Instrumen Reformasi Tata Kota Bekasi
BEKASI — Pemerintah Kota Bekasi mengarahkan Gerakan K3 ASRI (Aman, Sehat, Rapi, dan Indah) ke tahap yang lebih strategis: bukan hanya aksi kebersihan, melainkan instrumen reformasi tata ruang dan penguatan disiplin publik.
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, menilai tantangan kota penyangga ibu kota bukan sekadar persoalan sampah, tetapi juga konsistensi penegakan aturan dan pembentukan budaya tertib.
“Kota yang maju bukan hanya bersih secara fisik, tetapi juga tertib dalam aturan. K3 ASRI adalah fondasi membangun mentalitas kolektif itu,” ujarnya, Senin (2/3).
Penataan Ruang Publik Jadi Prioritas
Dalam pelaksanaannya, pemerintah menyoroti tiga aspek utama: optimalisasi drainase, penertiban reklame serta bangunan tak sesuai ketentuan, dan penguatan fungsi ruang publik. Trotoar dan bahu jalan yang sebelumnya semrawut mulai ditata ulang agar kembali pada peruntukannya.
Langkah ini dilakukan bertahap dengan sosialisasi dan pendekatan persuasif kepada pelaku usaha maupun warga. Namun, pemerintah memastikan regulasi tetap ditegakkan secara konsisten demi menjaga keadilan bagi semua pihak.
Membangun Standar Baru Kota
Pemkot juga mulai menyusun indikator evaluasi berbasis wilayah. Setiap kecamatan diminta melaporkan progres kebersihan lingkungan, kondisi saluran air, serta kepatuhan perizinan usaha. Evaluasi tersebut akan menjadi dasar perbaikan kebijakan berikutnya.
Sejumlah warga menyebut perubahan mulai terasa, terutama pada pengurangan titik sampah liar dan lebih tertatanya papan reklame di jalan protokol. Pelaku UMKM pun menyambut positif kepastian aturan yang dinilai memberi rasa aman dalam berusaha.
Konsistensi Jadi Kunci
Pengamat tata kota lokal menilai keberhasilan program ini sangat bergantung pada konsistensi. Jika pengawasan berjalan rutin dan masyarakat dilibatkan aktif, K3 ASRI berpotensi menjadi model penataan kota berbasis kolaborasi.
Pemerintah Kota Bekasi menegaskan komitmennya menjadikan gerakan ini sebagai agenda jangka panjang. Dengan sinergi antara aparatur dan masyarakat, wajah kota diharapkan tidak hanya berubah secara visual, tetapi juga dalam karakter warganya.
Jurnalis: Romo Kefas
