Sudutpandangnews.com JAKARTA, 16 Juli 2026 — Cara masyarakat Indonesia memilih parfum mulai mengalami perubahan. Jika sebelumnya aroma yang muncul sesaat setelah parfum disemprotkan menjadi faktor utama dalam keputusan membeli, kini semakin banyak konsumen yang memperhatikan bagaimana wewangian tersebut berkembang di kulit, seberapa lama aromanya bertahan, hingga apakah karakter wanginya tetap konsisten setelah digunakan sepanjang hari.
Perubahan ini sejalan dengan meningkatnya pengetahuan konsumen mengenai komposisi parfum dan pengaruh kondisi lingkungan terhadap performa sebuah wewangian. Di negara beriklim tropis seperti Indonesia, suhu udara yang cenderung tinggi, tingkat kelembapan yang besar, serta aktivitas masyarakat yang banyak berpindah dari ruang terbuka ke ruangan berpendingin udara membuat karakter parfum berubah lebih dinamis dibandingkan di negara beriklim sedang.
Dalam dunia parfum, aroma yang tercium saat pertama kali disemprotkan merupakan top notes, yaitu lapisan aroma yang paling ringan dan paling cepat menguap. Aroma tersebut umumnya hanya bertahan sekitar 15 hingga 30 menit sebelum berganti dengan middle notes atau aroma inti yang membentuk karakter utama parfum. Setelah beberapa jam, parfum memasuki fase base notes atau dry-down, yakni tahap ketika molekul aroma yang lebih berat mulai mendominasi dan bertahan paling lama di kulit.
Justru pada fase dry-down inilah kualitas sebuah parfum dinilai paling jelas. Aroma yang tetap stabil, berkembang secara harmonis, dan tidak berubah menjadi terlalu tajam atau cepat menghilang menunjukkan formulasi yang dirancang dengan baik serta keseimbangan bahan baku yang tepat.
Founder sekaligus perfumer Best Perfume Store, Josh Frost, mengatakan banyak konsumen masih menilai parfum terlalu cepat, padahal semprotan pertama hanya memperlihatkan sebagian kecil karakter sebuah wewangian.
“Komentar yang paling sering kami dengar adalah, ‘Saya suka aromanya saat mencobanya di toko, tetapi ternyata wanginya tidak bertahan seperti yang saya bayangkan.’ Padahal, semprotan pertama hanya menunjukkan sebagian kecil dari karakter sebuah parfum,” ujar Josh.
Menurutnya, pada iklim tropis seperti Indonesia, kualitas parfum baru benar-benar dapat dievaluasi setelah digunakan sekitar delapan hingga sepuluh jam.
“Pada fase itulah kita bisa melihat apakah formulasi, konsentrasi fragrance, dan kualitas bahan bakunya benar-benar mampu mempertahankan karakter aromanya. Sebagai perfumer, justru itulah bagian yang paling kami perhatikan.” Tambah Josh Frost
Karakter kulit setiap orang juga menjadi faktor penting. Tingkat kelembapan kulit, produksi minyak alami, suhu tubuh, hingga aktivitas fisik membuat parfum yang sama dapat menghasilkan aroma dan ketahanan yang berbeda pada setiap individu. Karena itu, parfum yang bertahan lama pada seseorang belum tentu memberikan hasil serupa pada orang lain.
Selain faktor biologis, paparan sinar matahari, polusi, keringat, serta perubahan suhu ruangan turut memengaruhi penguapan molekul aroma. Kondisi tersebut menyebabkan parfum dengan komposisi ringan, seperti citrus atau aquatic, cenderung lebih cepat menghilang dibandingkan aroma berbasis kayu, amber, musk, maupun resin yang memiliki molekul lebih berat.
Perubahan pola konsumsi ini juga mendorong masyarakat untuk tidak lagi membeli parfum hanya berdasarkan kesan pertama di toko. Semakin banyak konsumen yang mencoba parfum dalam aktivitas sehari-hari sebelum memutuskan membeli, termasuk memperhatikan bagaimana aroma berkembang sejak pagi hingga malam hari.
Di sisi lain, industri parfum mulai merespons perubahan tersebut dengan mengembangkan formulasi yang disesuaikan dengan karakter iklim tropis. Tidak hanya mengejar daya tahan aroma, produsen juga berupaya menjaga keseimbangan antara intensitas wewangian, kenyamanan saat digunakan, serta kestabilan aroma dalam kondisi panas dan lembap.
Best Perfume Store menjadi salah satu perusahaan yang mengembangkan formulasi untuk pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dengan pendekatan tersebut. Perusahaan juga memperkenalkan metode guided fragrance discovery, yaitu proses pemilihan parfum berdasarkan preferensi aroma, gaya hidup, dan kebutuhan penggunaan sehari-hari, bukan semata mengikuti tren.
Perubahan perilaku konsumen ini menunjukkan bahwa pasar parfum Indonesia semakin matang. Kualitas sebuah parfum kini tidak lagi diukur dari kesan sesaat ketika pertama kali disemprotkan, melainkan dari kemampuannya mempertahankan karakter aroma selama menjalani berbagai aktivitas dalam kondisi iklim tropis.
Dengan meningkatnya literasi mengenai dunia wewangian, konsumen pun mulai bergeser dari sekadar mencari parfum yang “harum saat dicoba” menjadi parfum yang mampu memberikan pengalaman aroma yang konsisten sepanjang hari.
(N.Pohan)
