Sudutpandangnews.com – Lampung merupakan pintu gerbang Pulau Sumatra sekaligus salah satu daerah dengan potensi wisata bahari terbesar di Indonesia. Garis pantainya membentang panjang, dihiasi gugusan pulau, perairan jernih, terumbu karang yang masih terjaga, hingga lanskap pesisir yang menawarkan pengalaman wisata berkelas.
Nama-nama seperti Teluk Kiluan dengan atraksi lumba-lumba liar, Pulau Pahawang yang menjadi surga snorkeling, Pantai Gigi Hiu dengan formasi batuan vulkaniknya, hingga Pulau Sebesi yang menghadap langsung ke Gunung Anak Krakatau merupakan kekuatan yang dimiliki sedikit daerah di Indonesia. Potensi tersebut bahkan didukung berbagai penelitian yang menempatkan Lampung sebagai salah satu kawasan dengan kekayaan biodiversitas laut yang layak menjadi destinasi unggulan nasional.
Namun, keindahan alam saja ternyata belum cukup. Dalam industri pariwisata modern, wisatawan tidak hanya membeli pemandangan, melainkan juga rasa aman.
Destinasi terbaik sekalipun dapat kehilangan daya saing ketika muncul persepsi bahwa perjalanan menuju lokasi wisata berisiko. Di sinilah tantangan terbesar Lampung berada.
Beberapa tahun terakhir, pemberitaan mengenai pembegalan, pencurian kendaraan, pungutan liar, hingga tindak kriminal di sejumlah jalur wisata terus bermunculan.
Memang, kejadian tersebut tidak terjadi di seluruh wilayah Lampung dan tentu tidak dapat digeneralisasi sebagai wajah masyarakat Lampung yang dikenal ramah. Akan tetapi, dalam dunia pariwisata, persepsi sering kali lebih cepat berkembang dibandingkan fakta.
Satu unggahan di media sosial mengenai pengalaman buruk dapat menjangkau jutaan calon wisatawan hanya dalam hitungan jam. Akibatnya, keputusan untuk berlibur tidak lagi ditentukan semata oleh keindahan destinasi, tetapi juga oleh tingkat kepercayaan terhadap keamanan kawasan tersebut.
Fenomena ini menjadi tantangan serius karena citra destinasi dibangun melalui pengalaman wisatawan. Ketika rasa aman terganggu, promosi sebesar apa pun akan sulit mengubah persepsi publik.
Data Polda Lampung yang mencatat sekitar 11.951 kasus kejahatan konvensional pada rilis akhir tahun menunjukkan bahwa isu keamanan masih menjadi perhatian. Angka tersebut memang tidak seluruhnya berkaitan dengan kawasan wisata, tetapi dalam perspektif pemasaran destinasi, publik jarang membedakan lokasi kejadian. Yang melekat adalah nama daerahnya.
Dampaknya tidak hanya dirasakan pemerintah, tetapi juga masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor pariwisata. Nelayan yang menyewakan kapal wisata, pemandu snorkeling, pemilik homestay, pedagang kuliner, hingga pelaku UMKM kehilangan peluang ekonomi ketika wisatawan memilih destinasi lain yang dianggap lebih aman.
Padahal, Lampung memiliki seluruh prasyarat untuk menjadi destinasi wisata bahari kelas nasional. Keindahan alam, aksesibilitas dari Pulau Jawa, kekayaan budaya pesisir, hingga potensi ekonomi biru merupakan modal besar yang tidak dimiliki banyak provinsi.
Karena itu, pembangunan pariwisata Lampung tidak boleh berhenti pada pembangunan infrastruktur dan promosi digital. Aspek keamanan harus menjadi bagian dari strategi utama pengembangan destinasi.
Peningkatan patroli di kawasan wisata, pemasangan kamera pengawas pada titik rawan, penindakan tegas terhadap pelaku kriminal maupun pungutan liar, serta pembentukan sistem keamanan berbasis masyarakat merupakan investasi yang nilainya jauh lebih besar dibandingkan biaya promosi.
Di sisi lain, masyarakat juga memegang peranan penting. Keramahan kepada wisatawan, kepedulian terhadap kebersihan lingkungan, serta keberanian melaporkan tindakan kriminal akan membangun kepercayaan yang menjadi fondasi utama industri pariwisata.
Pada akhirnya, keindahan laut Lampung tidak pernah menjadi persoalan. Persoalannya adalah bagaimana memastikan setiap wisatawan dapat menikmati keindahan tersebut dengan rasa aman sejak memasuki wilayah Lampung hingga kembali ke daerah asalnya.
Jika keamanan mampu dijamin secara konsisten, Lampung tidak hanya akan dikenal sebagai provinsi dengan laut yang memikat, tetapi juga sebagai destinasi wisata bahari yang aman, nyaman, dan memiliki daya saing tinggi di tingkat nasional maupun internasional.
Oleh:
Septian Jati Pribadi
Praktisi Pariwisata dan Mahasiswa Magister Terapan Pariwisata
(N.Pohan)
