Sudutpandangnews.com JAKARTA – Pembangunan MRT Jakarta Fase 2A rute Bundaran HIāKota memasuki fase krusial. Hingga 25 Juni 2026, progres konstruksi proyek senilai puluhan triliun rupiah tersebut telah mencapai 81,31 persen, melampaui target rencana sebesar 79,99 persen. Capaian ini menjadi indikator penting percepatan penyelesaian salah satu proyek infrastruktur transportasi strategis nasional yang diharapkan mampu meningkatkan konektivitas kawasan pusat bisnis sekaligus mendorong efisiensi ekonomi perkotaan.
Dalam kunjungan media ke proyek Stasiun Monas, Rabu (22/7), PT MRT Jakarta (Perseroda) memaparkan perkembangan pembangunan jalur bawah tanah Bundaran HIāKota sepanjang sekitar 5,8 kilometer yang mencakup tujuh stasiun bawah tanah. Proyek tersebut didanai melalui skema pinjaman Japan International Cooperation Agency (JICA) Official Development Assistance (ODA) yang terdiri atas dua tahap pembiayaan.
Bagi Jakarta, penyelesaian Fase 2A bukan sekadar penambahan jaringan transportasi massal. Jalur ini akan memperluas akses MRT menuju kawasan perdagangan dan bisnis bersejarah di koridor Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar hingga Kota Tua. Integrasi tersebut diproyeksikan memperkuat mobilitas pekerja, menekan biaya perjalanan, serta meningkatkan produktivitas kawasan ekonomi yang selama ini menjadi pusat aktivitas perdagangan dan jasa.
Secara konstruksi, paket pekerjaan sipil menunjukkan kemajuan yang signifikan. Paket CP201 Bundaran HIāHarmoni mencatat progres 61,80 persen, CP202 HarmoniāMangga Besar mencapai 67,04 persen, sedangkan CP203 Mangga BesarāKota telah menyentuh 86,03 persen. Sementara itu, pekerjaan sistem perkeretaapian terus berjalan dan pengadaan rangkaian kereta dijadwalkan mulai pada Agustus 2026.

Salah satu simpul terpenting dalam pengembangan jaringan MRT adalah Stasiun Thamrin, yang dirancang sebagai titik temu jalur MRT UtaraāSelatan dengan MRT TimurāBarat. Integrasi dua koridor tersebut diproyeksikan menghasilkan volume penumpang transit yang tinggi dan memperkuat konsep jaringan transportasi publik terpadu di ibu kota. Dengan panjang sekitar 440 meter dan delapan akses masuk menuju kawasan perkantoran, pusat pemerintahan, serta pusat bisnis, stasiun ini disiapkan menjadi salah satu pusat mobilitas terbesar di Jakarta.
Di sisi lain, pembangunan Stasiun Monas menunjukkan kompleksitas rekayasa konstruksi bawah tanah di kawasan cagar budaya dan pusat pemerintahan. Salah satu metode yang diterapkan adalah box jacking, yaitu pembangunan koridor bawah tanah tanpa menutup aktivitas lalu lintas secara signifikan di permukaan. Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya menjaga aktivitas ekonomi tetap berjalan selama proyek berlangsung.
PT MRT Jakarta menargetkan segmen Bundaran HIāMonas selesai pada Desember 2027, sementara segmen HarmoniāKota dituntaskan pada Februari 2030. Setelah beroperasi, koridor MRT hingga Kota diharapkan menjadi tulang punggung mobilitas di pusat Jakarta sekaligus memperkuat daya saing kota melalui sistem transportasi massal yang lebih efisien, terintegrasi, dan berkelanjutan.
(N.Pohan)
