Sudutpandangnews.com JAKARTA, 8 Oktober 2026 – Ketika rasa kehilangan berubah menjadi obsesi, teknologi yang semestinya menjadi alat komunikasi justru dapat menjadi pintu menuju persoalan yang tidak bisa dikendalikan. Premis tersebut menjadi dasar cerita Aplikasi Iblis, film horor terbaru garapan Dimas Anggara yang mulai tayang di bioskop Indonesia pada 15 Oktober 2026.
Diproduksi NIH Pictures, film ini mengikuti Arya (Junior Roberts), pria yang kehilangan kekasihnya, Laras (Dosma Hazenbosch), secara tragis ketika dirinya tengah mempersiapkan lamaran.
Tidak mampu menerima kepergian Laras, Arya mencari cara untuk kembali berkomunikasi dengannya. Ia kemudian menggunakan sebuah aplikasi yang memungkinkan manusia berhubungan dengan arwah.
Keputusan tersebut menjadi awal petaka. Apa yang semula didorong rasa cinta dan keinginan untuk mengatasi kehilangan justru membuka akses ke dunia arwah. Sejak itu, Arya tidak hanya harus menghadapi sosok yang telah meninggal, tetapi juga konsekuensi dari obsesinya sendiri.
Aplikasi Iblis mencoba menawarkan pendekatan berbeda dari formula horor yang hanya mengandalkan rumah angker, ritual, atau kemunculan makhluk gaib. Film ini menempatkan aplikasi sebagai medium yang menghubungkan dunia manusia dan dunia arwah.
Namun, kekuatan sekaligus tantangan film ini terletak pada premis tersebut. Konsep teknologi yang menjadi pintu menuju dunia supernatural memiliki daya tarik karena dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, gagasan semacam ini menuntut pembangunan aturan dunia yang kuat agar hubungan antara aplikasi, manusia, dan arwah tidak terasa terlalu mudah atau sekadar menjadi perangkat untuk menggerakkan cerita.
Dari materi cerita yang diperkenalkan, konflik Arya cukup jelas. Ia tidak mampu mengikhlaskan orang yang dicintainya dan akhirnya mengambil keputusan yang melewati batas kewajaran.
Dimas Anggara mengatakan film ini ingin memperlihatkan konsekuensi dari sesuatu yang dilakukan secara berlebihan.
“Film ini ingin memperlihatkan bahwa sesuatu yang berlebihan itu tidak baik dan pasti ada dampak negatifnya,” ujar Dimas.
Pendekatan tersebut membuat horor dalam Aplikasi Iblis tidak hanya bertumpu pada ancaman dari dunia supernatural, tetapi juga kondisi psikologis karakter utamanya.
Sebagai debut penyutradaraan horor Dimas Anggara, film ini juga memasukkan elemen action-thriller. Junior Roberts yang memerankan Arya harus menjalani sejumlah adegan fisik, termasuk pertarungan dengan melibatkan atlet profesional.
“Secara fisik memang harus ekstra karena Aplikasi Iblis bukan hanya lari-larian, tetapi juga memiliki adegan fighting,” kata Junior.
Perpaduan horor dan action tersebut berpotensi membuat ritme film lebih dinamis. Namun, di saat yang sama, pendekatan ini menjadi tantangan tersendiri. Horor membutuhkan atmosfer, ketegangan, dan ruang untuk membangun rasa takut, sementara action cenderung bergerak lebih cepat.
Jika tidak dikelola secara seimbang, adegan laga berisiko mengurangi intensitas horor yang telah dibangun. Karena itu, kekuatan film nantinya tidak hanya ditentukan oleh jumlah adegan pertarungan, tetapi bagaimana unsur action tetap terikat dengan konflik dan atmosfer cerita.
Produksi film memanfaatkan sebuah gedung bekas supermarket yang telah terbengkalai sebagai salah satu lokasi syuting. Kondisi bangunan tersebut digunakan untuk mendukung atmosfer cerita sekaligus kebutuhan adegan action-thriller.
Bagi Junior, perjalanan Arya juga berbicara mengenai persoalan menerima kehilangan. Karakternya justru semakin terperangkap karena tidak mampu menerima kenyataan bahwa orang yang dicintainya telah pergi.
“Dari karakter Arya aku juga belajar bahwa kita perlu mengikhlaskan yang telah pergi dan tak bersama kita,” ujar Junior.
Sementara itu, Dosma Hazenbosch menghadapi tantangan berbeda ketika memerankan Laras. Ini menjadi pengalaman pertamanya bermain dalam film horor. Selain tata rias untuk membentuk sosok arwah, Dosma mengubah karakter vokalnya agar memiliki perbedaan ketika Laras kembali sebagai sosok supernatural.
“Bukan cuma fisik dan wajahku yang berubah. Aku juga mengubah vokalku menjadi lebih berat,” kata Dosma.
Aplikasi Iblis disutradarai Dimas Anggara, dengan skenario Tisa TS dan produksi oleh R. Dimas Aryanto. Film ini dibintangi Junior Roberts, Dosma Hazenbosch, Aulia Deas, Aldo Irawan Putra, Muhammad Daffa Al Harits, dan Valdes Herera, serta menampilkan Della Dartyan dalam penampilan spesial.
Secara konsep, Aplikasi Iblis memiliki modal cerita yang menarik karena mempertemukan persoalan kehilangan, obsesi, teknologi, dan dunia supernatural. Namun, tantangan utamanya adalah memastikan premis aplikasi sebagai penghubung manusia dan arwah tidak berhenti sebagai gimmick, sekaligus menjaga agar unsur action tidak menggeser atmosfer horor yang menjadi fondasi cerita.
Karena film baru resmi tayang pada 15 Oktober, kualitas eksekusi, kekuatan atmosfer, akting, serta efektivitas terornya baru dapat dinilai secara utuh setelah film disaksikan.
Untuk sementara, Aplikasi Iblis menawarkan pertanyaan sederhana yang berpotensi menjadi sumber konflik besar: apa yang terjadi ketika seseorang menolak menerima kematian orang yang dicintainya dan memiliki teknologi untuk memanggilnya kembali?
Jawabannya akan diuji ketika Aplikasi Iblis hadir di bioskop Indonesia mulai 15 Oktober 2026.
(N.Pohan)
