Sudutpandangnews.com JAKARTA – Angklung Perempuan Indonesia (API) terus melanjutkan misi pemecahan Rekor MURI dengan tampil selama 31 hari di 31 mall berbeda di Jakarta dan sekitarnya. Hingga hari ke-18, Minggu (18/10), antusiasme pengunjung dinilai luar biasa.
Di bawah komando Ketua Umum API, Effy Kuswita, persiapan dilakukan secara matang. Salah satu pemandu, Dian Rose, mengaku menyesuaikan lagu dan kelompok pemain.
“Persiapannya ya kalau saya sih mempersiapkan lagu apa yang nanti cocok dibawakan, terus kelompoknya ada siapa saja. Kan kadang ada kelompok yang sudah lama, ada yang masih baru, kita sesuaikan,” ujar Dian Rose.
Bagi para pemain, tampil di mall menjadi pengalaman menaikkan kasta angklung. Salah satunya dirasakan oleh Irmina Fajarwati.
“Kesannya luar biasa ya, kan angklung itu kalau main di mall itu kayak naik kasta dan ternyata responnya dari pengunjung itu bagus. Berkesan banget karena pengunjungnya banyak dan sangat mengapresiasi,” ungkap Irmina Fajarwati.
Irmina Fajarwati dan Chandra dari API Bekasi kompak menilai Effy Kuswita sebagai sosok pemimpin yang disiplin, tegas, namun penuh kebersamaan.
“Hal positif dari Effy Kuswita itu menekankan disiplin dan kebersamaan. Disiplin dalam arti kalau latihan, kalau perform harus kompak dan saling merangkul,” ujar Irmina dan Chandra.
Sementara itu, Chandra menjelaskan misi besar di balik konsep 31 hari di 31 mall tersebut adalah memecahkan rekor MURI dengan tampil di tiga mall sekaligus dalam sehari.
“Ini cara baru untuk menarik anak-anak muda. Sempat angklung tenggelam, tapi dengan main di mall-mall kita bisa membangkitkan kembali musik tradisional kita,” jelasnya.
Strategi tersebut terbukti berhasil. Banyak pengunjung tertarik bergabung setelah sesi interaktif.
“Banyak yang nanya latihannya di mana, syaratnya apa. Kita memang tidak punya syarat. Kalau yang dekat Jakarta bisa bergabung di API Bintaro di Trans Bintaro. Kalau di Bekasi di Metropolitan Mall Bekasi. Akan dibuka juga di API Cibubur dan Kemang. Depok sudah ada. Tadi barusan juga ditawari untuk buka di Artha Gading,” paparnya.
Chandra menegaskan, pesan utama gerakan ini adalah pelestarian budaya oleh perempuan.
“Kebaya sudah diakui UNESCO, musik angklung juga sudah diakui UNESCO. Kalau bukan kita yang mempromosikan siapa lagi. Perempuan adalah pendidik di keluarga, bisa menularkan ke anak. Bermain angklung juga melatih koordinasi otak dan motorik, terapi supaya tidak cepat demensia,” pungkasnya.
(Maria)
