Jakarta – Ada fase dalam hidup ketika seseorang tidak lagi berbicara tentang impian,
melainkan tentang bagaimana ia bisa bertahan… hari ini.
Bukan karena ia lemah,
tetapi karena realitas memaksanya untuk mengakui
bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan oleh kekuatan manusia.
Ada kehilangan yang tidak bisa dihindari.
Ada kegagalan yang tidak bisa diulang.
Ada keadaan yang memaksa seseorang memulai kembali…
dari titik yang paling rendah dalam hidupnya.
Dan di titik itulah, manusia berhadapan dengan pertanyaan paling jujur:
masih adakah harapan… atau semuanya sudah selesai?
“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.”
— 1 Petrus 5:7
Namun iman tidak selalu terasa kuat.
Ada hari-hari ketika doa terasa seperti menggema di ruang kosong.
Ada malam-malam ketika harapan terasa begitu jauh, seolah tak tersentuh.
Sampai kemudian, tanpa disadari…
Tuhan mulai bekerja.
Bukan melalui cara yang besar.
Bukan melalui hal yang spektakuler.
Tetapi melalui sesuatu yang sederhana—
melalui kehadiran seseorang…
yang bahkan tidak pernah kita harapkan sebelumnya.
Di situlah kita mulai mengerti sebuah kebenaran rohani:
Tuhan sering membangun jembatan,
bukan dari apa yang kita rencanakan,
tetapi dari apa yang tidak pernah kita bayangkan.
“Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana.”
— Amsal 19:21
Pertolongan itu datang dengan cara yang sangat manusiawi—
sebuah perhatian kecil,
sebuah kepedulian yang tulus,
sebuah tindakan yang mungkin terlihat biasa.
Namun justru di situlah letak keajaibannya.
Karena di balik yang terlihat sederhana,
ada tangan Tuhan yang sedang bekerja dengan sempurna.
Ada hati yang Ia gerakkan.
Ada belas kasih yang Ia hidupkan.
Ada keputusan yang Ia arahkan… tanpa kita sadari.
Dan perlahan,
beban yang semula terasa mustahil untuk dipikul…
mulai terasa ringan.
“TUHAN itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan.”
— Nahum 1:7
Pengalaman ini mengajarkan kita sesuatu yang sangat penting:
Bahwa Tuhan tidak pernah kehabisan cara untuk menolong.
Ia tidak dibatasi oleh logika manusia.
Ia tidak terikat oleh rencana kita.
Ia bekerja melampaui dugaan,
melampaui perhitungan,
bahkan melampaui apa yang kita pikir mungkin terjadi.
“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku.”
— Yesaya 55:8
Maka ketika hidup terasa sempit,
dan jalan seolah tertutup di segala arah,
jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa semuanya telah berakhir.
Sebab bisa jadi, pada saat yang sama…
Tuhan sedang menyiapkan sebuah jembatan.
Jembatan yang akan membawa kita
dari keterbatasan menuju pemulihan.
Dari keputusasaan menuju pengharapan.
Dan seringkali…
jembatan itu adalah seseorang.
Seseorang yang hadir di waktu yang tepat.
Seseorang yang berbicara di saat yang tidak direncanakan.
Seseorang yang bertindak… tanpa mencari perhatian.
Di situlah kita melihat bahwa kasih Tuhan
tidak selalu turun langsung dari langit,
tetapi mengalir melalui kehidupan manusia.
“Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.”
— Mazmur 121:2
Jika hari ini kamu sedang berada di titik terendah,
ingatlah: Tuhan tidak pernah berhenti bekerja.
Mungkin kamu belum melihat jalannya.
Mungkin kamu belum mengenal “jembatan” yang sedang Ia siapkan.
Tetapi percayalah—
Dia tidak pernah terlambat.
Dan ketika waktunya tiba, kamu akan mengerti bahwa:
tidak ada air mata yang sia-sia,
dan tidak ada pergumulan yang luput dari perhatian-Nya.
“Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan.”
— Roma 8:28
Hidup memang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Namun di balik setiap ketidakpastian,
Tuhan tetap setia menyusun cerita.
Dan seringkali…
Ia menulis bagian terindah justru
di saat kita merasa semuanya telah berakhir.
Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K
