Sudutpandangnews.com Lawang — Perayaan Paskah Persekutuan Gereja-gereja di Lawang (PGL) 2026 menghadirkan nuansa sakral yang mendalam melalui pelayanan Paduan Suara Wanita (PSW) PGL. Dalam ibadah yang digelar pada Selasa, 5 Mei 2026 pukul 17.00 WIB di GBI Hosana, Jl. DR. Wahidin No. 34 Lawang, PSW PGL mempersembahkan lagu “The Lamb” karya Gerald Patrick Coleman dengan penuh penghayatan, mengangkat pesan tentang pengorbanan Kristus sebagai Anak Domba Allah.
Penampilan tersebut menjadi salah satu bagian yang menyentuh hati jemaat dalam ibadah Paskah bertema “Yesus Bangkit Membaharui Kemanusiaan Kita” dengan pembawa Firman Ps. DR (HC) Kukuh E. Lazarus, M.Th. Melalui harmonisasi suara yang lembut dan penuh penghayatan, jemaat diajak merenungkan kasih Allah yang dinyatakan melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.
Pelayanan PSW PGL merupakan buah dari proses panjang yang dipersiapkan melalui tujuh kali latihan rutin setiap minggu. Paduan suara ini dilatih oleh Pdt. Yunus Sutandio, M.Th., dosen Musik Gerejawi STT Aletheia Lawang, yang sekaligus bertindak sebagai conductor, dengan dukungan Ibu Susan sebagai pemusik pengiring.
PSW PGL melibatkan 23 wanita dari 13 gereja di wilayah Lawang sebagai wujud nyata kesatuan tubuh Kristus lintas denominasi. Gereja-gereja yang mengutus anggotanya antara lain GPIB (6 orang), GKJW (4 orang), GKA Immanuel (2 orang), GPdI Alfa Omega (2 orang), GPdI Agape (1 orang), GPdI Sion (1 orang), GBI Hosana (1 orang), GBI Victory (1 orang), GSJK (1 orang), GIA (1 orang), GSJA Talitakum (1 orang), GSJA Kristus Penolong (1 orang), dan GMAHK (1 orang). Dalam proses persiapan, dua anggota tidak dapat melanjutkan karena tanggung jawab pelayanan dan kondisi keluarga yang membutuhkan perhatian khusus.
Berbagai kesan dan testimoni mengalir dari para anggota setelah mengikuti proses latihan bersama. Pipit dari GIA mengungkapkan bahwa latihan memberikan banyak ilmu bernyanyi secara terperinci, termasuk pemahaman partitur, sekaligus melatih penguasaan diri dan kerendahan hati dalam pelayanan.
Duni dari GSJK menyampaikan bahwa proses latihan memperkaya wawasan teknik vokal dan musik secara praktis dan menyenangkan.
Anna Maria dari GPIB menambahkan bahwa selain peningkatan kemampuan musikal, suasana tim yang hangat dan rendah hati mempercepat keakraban dan memperkuat kekompakan antaranggota.
Hal senada disampaikan Dwi Panglipur dari GPIB yang menyoroti metode pengajaran yang komunikatif, segar, dan mudah dipahami, serta menekankan bahwa bernyanyi adalah bentuk persembahan syukur kepada Tuhan yang membutuhkan keselarasan dan kerendahan hati.
Dian Indri dari GKJW juga merasakan peningkatan signifikan dalam teknik vokal dan kontrol suara, sekaligus mengalami pertumbuhan rohani melalui kebersamaan yang saling menguatkan.
Tri Ismayani dan Imanuella dari GPIB turut menegaskan bahwa pelayanan ini bukan hanya tentang musik, tetapi juga menjadi sarana menyampaikan firman Tuhan dan membangun harmonisasi hidup dalam kebersamaan.
Kesan khusus datang dari Lilik Rachmawati dari GSJA Talitakum. Ia mengaku bersyukur masih diberi kesempatan melayani meski telah memasuki usia lansia. “Saya semakin mengerti teknik vokal yang baik, semakin akrab dengan kaum wanita dari gereja lain, dan bersyukur dilatih oleh guru vokal yang profesional. Semua anggota paduan suara kompak, bersemangat, saling menghargai dan menghormati sehingga bisa saling memberi pengaruh positif satu dengan yang lain,” tuturnya.
Sementara itu, Pdt. Yunus Sutandio menyampaikan rasa syukurnya karena Tuhan masih mempercayakan dirinya dan Ibu Susan untuk menjadi alat berkat melalui pelayanan musik gerejawi. “Saya bangga dengan semangat ibu-ibu dalam berlatih dan kemauan yang kuat untuk belajar,” ujarnya.
Koordinator Seksi Wanita dan pengurus tim PSW PGL, Pdt. Esther Wineman, turut menyampaikan ucapan syukur dan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat, khususnya kepada Pdt. Yunus Sutandio dan Ibu Susan atas dedikasi dalam melatih dan mengiringi, serta kepada para pengurus dan anggota yang telah berkomitmen dalam pelayanan ini.
Melalui pelayanan PSW PGL, jemaat kembali diingatkan bahwa nyanyian paduan suara bukan sekadar rangkaian nada dan lagu, melainkan sarana menyampaikan pesan kasih Kristus yang hidup dan nyata. Setiap syair yang dinyanyikan menjadi kesaksian iman tentang karya keselamatan Tuhan bagi dunia.
Lantunan kalimat “Layaklah Dia, Anak Domba Allah, mati ’tuk selamatkan dunia. Sekarang Dia bertahta!” menggema memenuhi ruang ibadah dan menjadi penegasan iman akan kemenangan Kristus yang bangkit dan hidup untuk selama-lamanya.
Melalui harmoni yang indah dan merdu, PSW PGL tidak hanya menghadirkan keindahan musik rohani, tetapi juga memperlihatkan indahnya persatuan gereja-gereja di Lawang dalam kasih Kristus. Semua pelayanan yang dipersembahkan menjadi ungkapan syukur demi kemuliaan Nama Tuhan.
(Inthe_R)
