Menjelang Maghrib di Condet: Relawan PJB dan Makna Sunyi Sebuah Kepedulian
Jakarta Timur – Sore menjelang berbuka puasa di kawasan Condet, Kramat Jati, Minggu (1/3/2026), tidak ada yang tampak luar biasa. Lalu lintas berjalan seperti biasa. Warga beraktivitas seperti hari-hari sebelumnya. Namun di antara rutinitas itu, ada sekelompok orang yang memilih berhenti sejenak untuk memberi.
Relawan PJB berdiri di tepi jalan sejak pukul 17.00 WIB, membawa paket takjil sederhana untuk dibagikan kepada para pengguna jalan dan warga sekitar. Tidak ada spanduk besar, tidak ada seruan keras. Yang ada hanyalah sapaan singkat dan uluran tangan.
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Sekretaris Jenderal Relawan PJB, Bunda Zege. Menurutnya, esensi Ramadhan justru terletak pada ketulusan yang tidak selalu harus dipertontonkan.
“Yang terpenting bukan seberapa besar yang kita bagikan, tetapi kesadaran bahwa di sekitar kita ada orang-orang yang membutuhkan perhatian,” ujarnya.
Di kota besar seperti Jakarta, interaksi sosial sering kali terjadi sekilas dan terburu-buru. Aksi berbagi takjil menjadi ruang kecil untuk memperlambat ritme itu — menghadirkan momen singkat kebersamaan antara relawan dan warga yang bahkan mungkin tidak saling mengenal.
Tidak ada target jumlah penerima, tidak ada klaim besar. Relawan PJB menempatkan kegiatan ini sebagai bagian dari tanggung jawab sosial yang dilakukan secara konsisten, bukan musiman.
Ramadhan, bagi mereka, bukan hanya tentang ritual, melainkan tentang membangun kembali jembatan empati di ruang-ruang publik.
Dari sudut Condet sore itu, terlihat bahwa kepedulian tidak selalu hadir dengan gemuruh. Terkadang, ia cukup berdiri diam di tepi jalan, membagikan secarik kebaikan menjelang adzan.
