Sudutpandangnews.com
Malam itu hampir pukul dua dini hari.
Berita sudah tayang. Judulnya keras. Isinya tajam. Ribuan orang membacanya. Ratusan membagikannya. Ada yang memuji keberaniannya. Ada yang mengutuk ketegasannya.
Namun setelah semua sunyi, setelah notifikasi berhenti berbunyi, ia hanya duduk menatap layar kosong.
Honor bulan ini belum juga masuk.
Di meja kecil ruang tamu, ada secarik kertas:
Tagihan uang kuliah anaknya.
Dan catatan transfer uang kos yang harus dikirim paling lambat tiga hari lagi.
“Pak, kalau memang belum ada, tidak apa-apa. Saya bisa bicara ke bagian kampus minta penangguhan,” pesan anaknya sore tadi.
Kalimat itu sederhana.
Tapi bagi seorang ayah, itu seperti sayatan yang pelan namun dalam.
Setiap hari ia menulis tentang ketimpangan sosial.
Tentang pendidikan yang makin mahal.
Tentang anak-anak bangsa yang terancam putus kuliah.
Ia mengkritik sistem.
Ia membela rakyat kecil.
Ia menyuarakan yang tak bersuara.
Namun malam itu, ia sadar —
ia juga sedang berdiri di barisan yang sama dengan mereka yang ia bela.
Rekeningnya hampir kosong.
Uang kos anaknya belum terkirim.
Dan redaksi hanya berkata,
“Mohon bersabar, pemasukan iklan sedang seret.”
Ia tidak pernah bercerita pada anaknya betapa sering honor tertunda.
Ia selalu berkata, “Tenang saja, papa usahakan.”
Padahal sering kali ia harus meminjam.
Menunda bayar listrik.
Menggeser cicilan.
Semata agar anaknya tetap bisa belajar dengan tenang di kamar kos kecilnya.
Ia tahu anaknya belajar sampai larut.
Ia tahu anaknya berhemat makan.
Ia tahu anaknya berusaha tidak banyak menuntut.
Dan justru itu yang membuat hatinya makin hancur.
Karena anaknya sedang menahan diri,
sementara ia sebagai ayah merasa belum cukup memberi.
Beberapa kali tawaran datang.
Pindah ke media besar.
Gaji tetap.
Tunjangan jelas.
Transfer tak pernah telat.
Satu syaratnya:
Jangan terlalu keras.
Jangan terlalu berani.
Jangan sentuh pihak tertentu.
Ia bisa saja menerima.
Uang kuliah aman.
Uang kos lancar.
Hidup lebih tenang.
Namun setiap kali ia hampir mengangguk, ada satu pertanyaan yang muncul:
Kalau suara ini dijual,
apa yang tersisa dari dirinya?
Ia mungkin bisa membayar uang kuliah anaknya dengan mudah.
Tetapi bagaimana ia menjelaskan pada anaknya bahwa integritas bisa ditukar dengan kenyamanan?
Di luar, orang memanggilnya wartawan berani.
Di media sosial, namanya sering disebut.
Tulisannya viral hampir setiap minggu.
Namun viral tidak membayar UKT.
Like tidak membayar uang kos.
Komentar tidak mengisi saldo rekening.
Ia bukan tidak lelah.
Ia bukan tidak ingin hidup lebih mudah.
Ia hanya tidak ingin menjual suara yang selama ini ia perjuangkan.
Di balik setiap berita yang Anda baca,
mungkin ada seorang ayah yang sedang menunggu transfer untuk membayar kuliah anaknya.
Di balik setiap headline yang menohok kekuasaan,
mungkin ada dompet yang lebih kosong dari janji-janji pejabat yang ia kritik.
Ia tetap menulis.
Bukan karena hidupnya mudah.
Tetapi karena ia memilih miskin secara materi
daripada miskin harga diri.
#RealitaWartawan
#MediaIndependen
#ViralTapiTakDibayar
#IdealismeTakDijual
