Semua Manusia Dapat Mencapai Kesadaran Buddha
Oleh Amin Wijaya
Dalam ajaran Buddhisme Mahayana, khususnya melalui Saddharmapundarika Sutra atau Sutra Bunga Teratai, ditegaskan bahwa setiap makhluk hidup memiliki potensi untuk mencapai kesadaran Buddha. Tidak ada yang dikecualikan. Bahkan mereka yang dianggap paling jahat sekalipun, yang dalam ajaran disebut icchantika, tetap memiliki kemungkinan untuk mencapai pencerahan. Sosok Devadatta sering dijadikan simbol bahwa bahkan orang yang pernah melakukan kesalahan besar pun tetap memiliki potensi kebuddhaan.
Karena itu, manusia tidak seharusnya putus asa terhadap dirinya sendiri. Lingkungan yang buruk atau citra diri yang pernah jatuh bukanlah akhir dari perjalanan hidup. Selama seseorang memiliki tekad untuk berubah dan berlatih, jalan menuju kesadaran selalu terbuka.
Ajaran ini sering dianalogikan dengan bunga teratai. Teratai tumbuh di kolam yang berlumpur dan kotor, namun dari tempat yang demikian justru muncul bunga yang indah dan menenangkan. Jika kolam tersebut dirawat dengan baik, maka keindahannya akan semakin terlihat.
Begitu pula dengan kehidupan manusia. Meskipun seseorang berada dalam kondisi yang sulit atau penuh kekeliruan di masa lalu, nasib dapat berubah apabila ada tekad yang kuat dan kesungguhan hati untuk melatih diri di jalan kebuddhaan.
Kekuatan ajaran Buddha yang ditekankan oleh Nichiren terletak pada praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Melalui keyakinan terhadap Myoho Renge Kyo dan dengan melantunkan Nam Myoho Renge Kyo, seseorang berusaha menumbuhkan benih kebajikan dan merombak sifat diri yang keliru.
Praktik ini membantu manusia melihat potensi kebuddhaan dalam dirinya. Ibarat seseorang yang dapat melihat bulu matanya sendiri melalui pantulan cermin, kesadaran Buddha juga dapat terlihat apabila tidak ada kabut yang menutupi pandangan batin.
Kabut itu adalah keraguan, kemarahan, keserakahan, dan kebodohan. Ketika kabut tersebut mulai tersingkir melalui latihan dan kesadaran, potensi kebuddhaan perlahan muncul.
Perubahan tidak terjadi dalam sekejap. Ia berjalan melalui proses hukum sebab dan akibat. Dengan menanam sebab yang baik secara terus-menerus, kehidupan perlahan berubah menuju akibat yang baik pula.
Pada akhirnya, perubahan batin yang tulus akan membawa kehidupan yang lebih sehat, damai, dan penuh kebijaksanaan. Kebahagiaan tidak hanya dirasakan oleh diri sendiri, tetapi juga oleh keluarga dan lingkungan sekitar.
Nam Myoho Renge Kyo.
Salam Buddhis.
