Sudutpandangnews.com Setiap orang hidup dengan pilihan. Dari hal-hal sederhana hingga keputusan besar yang menentukan arah masa depan. Kita memilih pekerjaan, memilih pasangan hidup, memilih tempat tinggal, bahkan memilih gaya hidup yang kita anggap terbaik.
Namun ada satu pilihan yang jauh lebih penting dari semua itu. Sebuah keputusan yang tidak hanya menentukan bagaimana kita hidup hari ini, tetapi juga menentukan arah hidup kita dalam kekekalan.
Pilihan itu adalah: siapa yang benar-benar kita jadikan Tuhan dalam hidup kita.
Sering kali tanpa disadari, manusia bisa hidup bertahun-tahun tanpa pernah benar-benar mengambil keputusan itu secara serius. Kita merasa cukup hanya dengan menjadi orang yang “percaya”, pergi ke gereja, atau hidup dalam tradisi iman keluarga.
Namun iman yang sejati tidak pernah hanya soal kebiasaan.
Iman selalu menuntut keputusan.
Itulah yang dilakukan Yosua ketika ia mengumpulkan seluruh bangsa Israel menjelang akhir hidupnya. Ia tidak hanya mengingatkan mereka tentang sejarah panjang perjalanan bersama Tuhan—bagaimana Tuhan memanggil Abraham, membebaskan Israel dari perbudakan Mesir, memimpin mereka di padang gurun, dan akhirnya memberikan tanah perjanjian kepada mereka.
Semua itu adalah bukti nyata kesetiaan Tuhan.
“Kamu telah melihat segala yang dilakukan TUHAN, Allahmu, kepada segala bangsa oleh karena kamu, sebab TUHAN, Allahmulah yang berperang untuk kamu.”
(Yosua 23:3)
Namun Yosua tahu bahwa mengingat kebaikan Tuhan saja tidak cukup. Pada akhirnya setiap orang harus menentukan sikap.
Karena itu Yosua berkata dengan sangat tegas:
“Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah.”
(Yosua 24:15)
Kalimat itu bukan sekadar ajakan rohani. Itu adalah panggilan untuk mengambil keputusan yang jelas.
Bangsa Israel tidak bisa lagi hidup dengan sikap setengah-setengah. Mereka harus menentukan apakah mereka akan tetap setia kepada Tuhan atau mengikuti ilah-ilah lain yang ada di sekitar mereka.
Yang paling menggetarkan adalah ketika Yosua tidak menunggu jawaban orang lain. Ia terlebih dahulu menyatakan sikapnya dengan penuh keyakinan:
“Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.”
(Yosua 24:15)
Pernyataan ini bukan sekadar kata-kata seorang pemimpin tua yang sedang memberikan nasihat terakhir. Ini adalah pengakuan iman yang lahir dari pengalaman hidup bersama Tuhan.
Yosua tahu siapa yang telah menuntunnya selama ini.
Dan karena itu ia tidak ragu menentukan pilihannya.
Hari ini pertanyaan yang sama sebenarnya juga ditujukan kepada kita.
Bukan kepada orang lain. Bukan kepada gereja. Bukan kepada keluarga kita.
Tetapi kepada kita secara pribadi.
Siapa yang benar-benar kita pilih untuk memimpin hidup kita?
Apakah Tuhan sungguh menjadi pusat hidup kita?
Ataukah kita masih memberi tempat bagi banyak hal lain untuk mengambil posisi yang seharusnya hanya menjadi milik Tuhan?
Alkitab dengan jelas mengingatkan:
“Tidak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan… Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”
(Matius 6:24)
Berhala di zaman sekarang tidak selalu berbentuk patung atau altar penyembahan. Berhala bisa hadir dalam bentuk yang jauh lebih halus: uang, ambisi, kekuasaan, kenyamanan hidup, popularitas, bahkan keinginan diri sendiri.
Tanpa disadari semua itu bisa mengambil tempat Tuhan dalam hati manusia.
Itulah sebabnya Yosua menantang bangsa Israel untuk menyingkirkan segala sesuatu yang berpotensi menjadi berhala dalam hidup mereka.
“Jauhkanlah sekarang allah-allah yang asing yang ada di tengah-tengah kamu dan condongkanlah hatimu kepada TUHAN, Allah Israel.”
(Yosua 24:23)
Memilih Tuhan bukan hanya soal ucapan, tetapi soal keberanian untuk menempatkan Tuhan sebagai yang terutama dalam hidup kita.
Yesus sendiri berkata:
“Barangsiapa mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”
(Lukas 9:23)
Keputusan itu tidak bisa ditunda.
Sebab setiap hari, melalui cara kita hidup, melalui keputusan yang kita ambil, dan melalui nilai-nilai yang kita pegang, kita sebenarnya sedang menjawab pertanyaan yang sama:
Siapa yang kita pilih untuk kita sembah?
Dan pilihan yang kita buat hari ini akan menentukan arah hidup kita—bukan hanya untuk sementara, tetapi untuk kekekalan.
“Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal.”
(Yohanes 3:36)
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K
