Sudutpandangnews.com JAKARTA – Isu transisi energi mulai diperkenalkan kepada generasi muda melalui pembelajaran yang menghubungkan persoalan lingkungan dengan aktivitas sehari-hari. PT Energy Management Indonesia (Persero) atau PLN EMI menggelar program EMI Green Generation di SMA Cinta Kasih Tzu Chi, Jakarta, dengan materi perubahan iklim, dekarbonisasi, efisiensi energi, dan pengelolaan emisi.
Program tersebut tidak berhenti pada penyampaian materi. Para siswa juga mengikuti workshop penghitungan emisi dari sampah yang dihasilkan di lingkungan sekolah. Mereka diperkenalkan pada proses mengidentifikasi jenis dan volume sampah, kemudian menghubungkannya dengan potensi emisi yang timbul dari aktivitas pengelolaannya.
Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam edukasi transisi energi karena memperlihatkan bahwa persoalan emisi tidak hanya berkaitan dengan pembangkit atau industri energi. Aktivitas sehari-hari, termasuk penggunaan energi dan pengelolaan sampah, juga memiliki keterkaitan dengan jejak karbon.
Direktur Utama PT Energy Management Indonesia (Persero) Henri Firdaus mengatakan, pemahaman mengenai transisi energi perlu dibangun sejak generasi muda agar perubahan tidak hanya berlangsung pada tingkat teknologi, tetapi juga perilaku.
“Transisi energi bukan hanya tentang perubahan teknologi, tetapi juga tentang perubahan cara berpikir dan perilaku. Generasi muda perlu memahami bahwa setiap pilihan yang kita lakukan hari ini akan memberikan dampak terhadap lingkungan dan kehidupan di masa depan,” ujar Henri.
Melalui sesi edukasi dan praktik, siswa diajak memahami konsep dekarbonisasi secara lebih konkret. Data mengenai sampah di lingkungan sekolah menjadi contoh bagaimana persoalan lingkungan dapat diukur, dianalisis, dan kemudian dicari alternatif solusinya.
Materi juga mencakup perkembangan sektor energi dan kebutuhan kompetensi di tengah tumbuhnya ekonomi hijau. Perubahan menuju sistem energi yang lebih rendah emisi tidak hanya membutuhkan teknologi, tetapi juga sumber daya manusia yang memahami persoalan energi, lingkungan, dan keberlanjutan.
SMA Cinta Kasih Tzu Chi dipilih sebagai lokasi pelaksanaan program karena telah memiliki praktik pengelolaan lingkungan melalui Gerakan Peduli Lingkungan (GPL). Sekolah tersebut antara lain menerapkan kebiasaan membawa botol minum dan kotak makan pribadi, mengurangi penggunaan styrofoam, serta mengelola sampah melalui depo daur ulang.
Praktik tersebut menjadi titik masuk untuk memperluas pemahaman siswa mengenai hubungan antara pengelolaan sampah dan emisi. Konsep bahwa sampah memiliki nilai ekonomi juga diperkenalkan melalui pemilahan dan pengelolaan yang dilakukan di lingkungan sekolah.
Menurut Henri, sekolah memiliki posisi strategis dalam membentuk cara pandang generasi muda terhadap persoalan keberlanjutan. Karena itu, edukasi mengenai energi perlu dikaitkan dengan persoalan yang dekat dengan kehidupan siswa.
“Kami berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dan keberanian generasi muda untuk mengambil peran dalam mewujudkan masa depan yang lebih berkelanjutan,” katanya.
Program EMI Green Generation menjadi bagian dari TJSL PLN EMI di bidang pendidikan. Materi yang diberikan mencakup perubahan iklim, transisi energi, efisiensi energi, dekarbonisasi, dan pengelolaan lingkungan.
Di tengah target Indonesia mencapai Net Zero Emission pada 2060 atau lebih cepat, literasi energi menjadi salah satu kebutuhan yang perlu dibangun sejak dini. Edukasi yang menggabungkan pemahaman konsep dengan pengukuran dan praktik di lingkungan sekolah menjadi salah satu cara memperkenalkan isu tersebut secara lebih konkret kepada generasi muda.
(N.Pohan)
